Bijak dengan Tunjangan Hari Raya (THR)

Dua pekan menjelang lebaran biasanya perusahaan sudah membagikan tunjangan hari raya (THR). Tapi sayang banyak dana THR menguap untuk keperluan yang tidak begitu penting. Jangankan memikirkan untuk menabung dari dana THR, membuat hari-hari usai lebaran tidak nombok saja sulit.

Lalu bagaimana mengelola dana THR agar pengeluaran ketika puasa dan lebaran tidak terlalu membengkak? Apa bisa dana THR digunakan untuk investasi?

THR merupakan tambahan pendapatan yang diperoleh di luar gaji. Seyogyanya, jika dengan gaji bulanan saja kebutuhan pengeluaran bisa teratasi maka dengan tambahan THR tentunya ada kelebihan dana yang bisa disimpan.

Namun apa boleh dikata, kalau puasa dan lebaran malah membuat kebutuhan konsumsi membengkak. Apalagi yang berencana mudik ke kampung halaman yang biasanya memanfaatkan betul dana THR yang didapat.

Tapi kini saatnya Anda mengubah gaya hidup di bulan puasa dan lebaran agar tidak terlalu konsumtif. Sehingga dana THR yang didapat lebih punya makna ketimbang dibelanjakan yang ujungnya juga akan habis dalam sekejap.

Berikut cara bijak untuk mengelola dana THR:

1. Buatlah daftar kewajiban apa saja yang sedang Anda tanggung, apakah memiliki utang atau harus membayar asuransi yang jatuh tempo. Ingat juga kewajiban membayar THR untuk orang yang bekerja di rumah.

2. Jika Anda memiliki utang yang belum terbayar bisa menggunakan sebagian THR untuk melunasinya. Konsekuensinya memang Anda tidak bisa menikmati THR untuk belanja banyak. Tapi bukankah dengan begitu Anda lebih lega tidak memiliki utang lagi dan tidak perlu repot menyisihkan dana untuk bayar utang.

3. Sisihkan dulu kebutuhan membayar zakat, sedekah atau berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.

4. Beli keperluan makanan untuk puasa dan lebaran dengan tidak berlebihan. Lebaran juga tidak harus selalu memakai pakaian baru sehingga biaya untuk baju baru bisa dikurangi.

5. Siapkan anggaran untuk mudik. Karena terkadang ongkos mudik menggunakan bus, kereta, pesawat lebih tinggi saat lebaran. Sediakan juga dana selama di kampung halaman.

6. Bagi pasangan yang bekerja tentu mendapatkan THR dobel. Buat kesepakatan, misalnya THR suami untuk keperluan lebaran dan THR istri ditabung atau investasi di reksa dana atau ORI yang risikonya lebih kecil.

7. Biasakan menyisihkan dana THR misal 10% untuk menabung.

Umumnya pada saat puasa banyak rumah tangga yang menyediakan jenis makanan manis yang berlebih seperti kolak, sirup, kue-kue. Anda bisa lebih menghemat dengan menyajikan satu jenis makanan manis saja untuk berhemat.

Perlu diingat, biasanya saat lebaran dana yang digunakan habis-habisan. Nah jangan sampai terulang lagi kejadian habis lebaran malah tak punya uang. Sementara gajian bulan beikutnya masih lama.

Selamat mengelola THR

Tips Berhemat

Banyak cara untuk berhemat. Sekarang musimnya berhemat,  dimulai dari sekarang.

1. “Setia” Pada Daftar
Penting membuat daftar belanjaan sebelum berangkat belanja. Tapi yang lebih penting lagi, belilah barang hanya yang ada pada daftar belanja saja!

2. Jangan Beli Dalam Jumlah Banyak
Kecuali, Anda punya sebuah tempat “tersembunyi” untuk menyimpan barang-barang itu. Soalnya, membeli dalam jumlah banyak akan mengakibatkan anggota keluarga jadi boros menggunakannya.

3. Hindari kartu Kredit
Cukup miliki satu kartu kredit saja untuk kebutuhan yang mendesak.

4. Kurangi Menonton Televisi
Iklan di teve selalu saja membuat Anda tergiur. Jadi, kurangi jam menonton teve. Jangan pula membeli barang melalui pelayanan telepon atau katalog, karena hanya akan membuat Anda semakin ingin membeli.

5. Hindari Belanja Dengan Teman Kaya
Hindari berbelanja bersama teman yang uangnya “tak berseri” dan teman yang gaya belanjanya seperti orang kaya. Anda harus berusaha menghentikan kebiasaan membeli sesuatu yang sebenarnya tak terlalu diperlukan dan sekadar ikut-ikutan teman. Bila mengajak anak berbelanja, tetaplah sesuai anggaran.

6. Selalu Berpikir Praktis
Saat belanja, selalu tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku perlu barang ini?” atau “Apakah hal ini penting sekali?” Jika ya, berarti Anda telah berlaku praktis dan jujur pada diri sendiri.

7. Susun Anggaran Keuangan & Patuhi
Catat semua pengeluaran sehingga Anda tahu ke mana perginya uang Anda. Tantangan yang harus dihadapi adalah menyiasati biaya “hiburan” keluarga (makan di luar, menonton bioskop, berlibur) yang cukup besar.

Kesalahan lain saat membuat anggaran adalah lupa memasukkan “pengeluaran mendesak” seperti biaya berobat ke dokter atau perbaikan mobil, biaya tahunan seperti belanja buku/alat sekolah, baju seragam sekolah, serta anggaran untuk perayaan agama semisal Lebaran atau Natal. Karena itu, cara yang terbaik adalah merencanakan anggaran sejak jauh hari.

TRIK INVESTASI MENGHADAPI SERANGAN INFLASI DAN PAJAK


Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari detikcom

Kebanyakan orang menaruh dananya di tempat yang ‘aman-aman’ saja. Kenapa mereka menaruh 100% -bahkan dana nganggurnya- ke dalam produk investasi yang ‘aman’ seperti tabungan atau deposito di bank? Jawabannya adalah karena orang-orang seperti ini takut kehilangan uangnya.

Bila Anda masih muda (katakanlah masih berada di bawah umur 40), maka ini sebetulnya ironis sekali dan sangat disayangkan. Karena apa yang mereka pikir investasi yang ‘aman’ seperti tabungan atau deposito, sebetulnya malahan tidak ‘aman’. Lho, bagaimana mungkin? Sederhana. Kalau Anda punya uang Rp 100 juta yang ditaruh dalam deposito, maka mungkin pada saat ini Anda akan mendapatkan bunga sebesar 12% per tahun. Betul? Jadi, jumlah bunga yang Anda dapatkan pada akhir tahun adalah: Rp 100 juta x 12% = Rp 12 juta.

Tetapi, bila dipotong pajak bunga deposito sebesar 15%, maka bunga yang Anda dapatkan adalah Rp 10.200.000 pada akhir tahun. Sehingga sebetulnya, suku bunga yang Anda dapatkan setelah pajak adalah 10,2% per tahun.

Sekarang masalahnya, apakah bunga yang besarnya Rp 10,2 juta tersebut bisa terus menerus membeli barang dan jasa yang harganya Rp 10,2 juta setiap tahunnya? Jawabannya jelas tidak. Kenapa? Soalnya, dalam 12 tahun terakhir rata-rata kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi di Indonesia adalah 13,35% per tahunnya. Kenaikan barang dan jasa secara agregat selalu ditunjukkan lewat perhitungan inflasi yang diumumkan pemerintah tiap bulannya. Di bawah ini adalah tabel lengkapnya:

Tahun
1988 = 5,47%
1989 = 5,97%
1990 = 9,53%
1991 = 9,52%
1992 = 4,94%
1993 = 9,77%
1994 = 9,24%
1995 = 8,64%
1996 = 6,47%
1997 = 11,06%
1998 = 77,63%
1999 = 2,01%

Rata-rata = 13,35%

Dengan asumsi ini maka sebetulnya suku bunga riil yang Anda dapatkan adalah: suku bunga setelah pajak (10,2%) dikurangi inflasi (13,35%) sama dengan minus 3,15%.

Artinya, bila pada saat ini Anda menginvestasikan uang Rp 100 juta, maka deposito yang memberikan bunga 12% per tahun sebelum pajak, setelah 10 tahun saldo riil Anda pada akhir tahun ke 10 adalah Rp 72.609.969. Dengan kata lain, uang Anda menyusut sebesar 3,15% per tahunnya.

Inilah kenapa banyak orang yang gagal secara keuangan. Mereka terlalu fokus pada masalah keamanan investasinya ketimbang berusaha mengambil risiko yang lebih besar. Resiko besar berguna untuk mendapatkan keuntungan lebih besar guna ‘mengalahkan’ tingkat inflasi. Dengan fokus pada investasi yang ‘aman-aman’ saja, maka hasil investasi riil yang didapatkan juga tidak besar. Bahkan cenderung minus seperti dalam contoh di atas.

Jika Anda ingin menumpuk kekayaan, maka apa yang harus Anda lakukan adalah dengan berani mengambil risiko yang lebih besar sehingga bisa memberikan potensi keuntungan yang lebih besar. Sehingga Anda masih mendapatkan keuntungan yang bisa dibilang lumayan, walaupun sudah dipotong pajak dan inflasi.

Trend Investasi di masa mendatang


Oleh: Safir Senduk

Dari banyak buku yang saya baca, investasi sering diartikan berbeda-beda. Tetapi bagi saya, investasi bisa diartikan sebagai suatu tindakan untuk mengembangkan nilai aset yang kita punya. Contohnya, Anda punya uang Rp 5 juta, lalu ingin mengembangkan dana tersebut menjadi Rp 10 juta dalam waktu satu tahun. Nah, usaha apa yang Anda lakukan untuk mengembangkan uang tersebut. Itulah yang dimaksud tindakan berinvestasi. Uang tersebut bisa Anda depositokan, ditabungan, dibelikan emas atau cara-cara lain.

Tindakan berinvestasi juga akan mengikuti pola pikir manusia. Semakin maju suatu peradaban, tingkat kreativitas masyarakatnya juga makin berkembang. Ini akan berpengaruh dengan penemuan-penemuan baru dari produk investasi. Dulu orang hanya mengenal investasi lewat emas lalu muncul tabungan dan deposito. Selanjutnya muncul pemikiran, kepemilikan dari sebuah usaha bisa dijualbelikan. Itulah yang melatarbelakangi munculnya saham. Dalam perkembangan berikutnya muncul ide tentang penjualan jasa manajemen investasi yang akhirnya muncul reksa dana. Lalu kira-kira investasi mana yang akan menjadi tren di masa depan? Ada lima hal yang mempengaruhi sebuah produk investasi bisa menjadi tren dan jadi pilihan banyak orang.

  1. Kebiasaan
    Faktor ini menjadi penentu keputusan seseorang dalam memilih produk investasi. Itu yang menyebabkan kenapa deposito sampai saat ini masih digemari orang kendati bunganya terus turun. Orang sudah terbiasa menabung hanya di bank. Jarang yang kepikiran lewat cara lain, misalnya asuransi, emas atau saham. Sepanjang kebiasaan orang tidak bergeser, maka tabungan dan deposito tetap akan menjadi pilihan.
  2. Tingkat Pengetahuan
    Tingkat pengetahuan seseorang terhadap sebuah produk investasi akan mempengaruhi keputusan mereka dalam berinvestasi. Strategi lembaga keuangan yang sering melakukan edukasi kepada masyarakat sangat mempengaruhi pemahaman masyarakat terhadap produk investasi.Jadi sepanjang ada edukasi atau promosi, maka tingkat pengetahuan seseorang terhadap sebuah produk investasi akan meningkat, sehingga kecenderungan mereka untuk lebih memilih produk tersebut juga semakin besar.

    Fakta yang terjadi sekarang, produk-produk yang masih paling banyak melakukan edukasi dan promosi adalah produk-produk perbankan, asuransi dan jasa manajemen investasi. Di masa depan promosi mereka tentu kian gencar.

  3. Tawaran Hasil
    Tidak bisa dipungkiri, tawaran hasil yang diberikan oleh sebuah produk investasi mempengaruhi keputusan seseorang untuk memilih produk investasi. Sebagai contoh, kalau Anda dibilang bahwa ada produk investasi yang bisa memberikan hasil diatas bunga deposito, maka biasanya Anda akan mengernyitkan dahi dan mulai penasaran dan minta dijelaskan bukan?Yang terjadi sekarang produk-produk seperti saham, reksa dana dan unit link masih mendominasi tawaran produk-produk yang memberikan hasil tinggi walaupun investasi ini risikonya lebih tinggi. Ke depan, sepanjang ada produk yang bisa menawarkan hasil yang lebih tinggi, maka produk itu bisa jadi akan menjadi tren.
  4. Likuiditas
    Prinsipnya, ketika seseorang mulai berinvestasi, dia bisa melakukannya dengan dua cara. Pertama adalah dengan membeli sebuah produk investasi yang dia pegang sendiri (seperti emas atau properti). Produk tersebut bisa diharapkan jika dijual lagi harganya lebih tinggi. Cara kedua, dia bisa berinvestasi dengan “menitipkan” uangnya ke dalam sebuah lembaga (seperti bank, asuransi atau jasa manajemen investasi).Pada cara pertama, likuiditas atau kemudahan dalam menjual kembali produk investasi yang sudah Anda beli akan mempengaruhi keputusan seseorang dalam berinvestasi. Semakin mudah dijual, biasanya produk itu akan semakin disukai. Saat ini emas masih menjadi produk yang dianggap cukup mudah untuk dijual, selain saham dan reksa dana.
  5. Keamanan
    Hal kelima yang menjadi faktor tren berinvestasi di masa mendatang adalah faktor keamanan. Semakin baik reputasi lembaga (bank, asuransi, jasa manajemen investasi), maka masyarakat makin mempercayai. Masyarakat pun akan merasa aman “menitipkan” uangnya ke lembaga-lembaga yang reputasinya tinggi.

Fakta yang terjadi sekarang adalah bahwa orang masih melihat bank sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi. Untuk jasa asuransi, orang masih melihat bahwa perusahaan asuransi yang join dengan perusahaan asing memiliki kesan kuat di masyarakat bahwa lembaga tersebut adalah lembaga yang aman, sehingga pantas untuk didatangi sebagai tempat berinvestasi.

Di masa depan, bila suatu lembaga bisa menunjukkan bahwa mereka adalah perusahaan yang kuat dan sehat, bukan tidak mungkin orang akan memutuskan untuk berinvestasi ke perusahaan tersebut.

Bagaimana Bapak Ibu? Mudah-mudahan kelima hal tersebut bisa membantu Anda melihat produk-produk investasi mana saja yang mungkin akan menjadi tren di masa mendatang. Salam.

Strategi Mengambil Kredit Rumah


Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 697/XIV

Dua nomor lalu kita telah membahas tentang persiapan apa yang harus Anda lakukan bila ingin membeli rumah. Sekarang, kita akan membahas tentang apa yang harus Anda lakukan bila Anda ingin membeli rumah secara kredit.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, pembelian rumah bisa dilakukan dengan dua macam cara: tunai maupun kredit. Anda bisa membeli rumah secara tunai bila Anda memiliki uang yang nilainya sama dengan harga rumah yang Anda inginkan. Sebagai contoh, bila harga rumah adalah Rp 100 juta (bangunan plus tanah), maka Anda bisa membeli rumah tersebut secara tunai bila Anda memang punya uang tunai sebesar Rp 100 juta.

Masalahnya, kebanyakan keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke bawah seringkali tidak memiliki uang tunai sebanyak itu. Jumlah uang tunai yang mereka punya mungkin hanya 60%-nya, 40%-nya, atau bahkan mungkin cuma 30%-nya. Lalu bagaimana solusinya? Solusinya adalah dengan membeli rumah tersebut secara kredit.

Sekarang, bisa tidak Anda mengambil kredit? Kalau Anda datang ke bank, maka bank biasanya memiliki produk kredit yang bisa dimanfaatkan untuk membeli rumah. Nama produk ini adalah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Untuk bisa mengambil KPR, maka bank biasanya tidak akan mau membayari rumah Anda 100%. Mereka hanya akan membayari rumah Anda sekitar 70% dari harga rumah, sisanya yang 30% harus Anda bayar sendiri dari kantong Anda.

Bagaimana caranya? Kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, maka Anda harus membayar dulu 30%-nya dari kantong Anda (dalam contoh ini berarti Rp 30 juta). Setelah itu, barulah bank akan melunasi sisanya yang 70% (yaitu Rp 70 juta). Disini, jumlah 30% yang Anda bayar dianggap oleh bank sebagai Uang Muka (Down Payment = DP), dan jumlah 70% yang dipinjamkan bank untuk membayar sisa harga rumah akan menjadi hutang bagi Anda yang harus Anda cicil pembayarannya, tentunya disertai dengan bunga.

Pertanyaan berikutnya, apakah Anda punya dana yang cukup untuk membayar Uang Muka yang 30% itu? Kalau ya, bagus. Ini berarti Anda tinggal melanjutkan ke langkah yang berikutnya, yaitu mengajukan Permohonan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) ke bank. Tetapi bagaimana bila Anda tidak memiliki dana untuk membayar Uang Muka tersebut? Ini berarti Anda harus menabungnya terlebih dahulu, dan jangan memaksakan diri untuk mengajukan Permohonan KPR sekarang juga. Ingat sekali lagi, bank hanya akan memberikan kredit bila Anda mau membayar jumlah sebesar 30%-nya terlebih dahulu. Kalau Anda tidak punya uang yang 30%-nya itu, maka Anda harus menabungnya lebih dulu.

Mengajukan Permohonan KPR ke Bank

Oke, Anda sudah melihat-lihat rumah dan sudah tahu harganya. Anda juga sudah menghitung bahwa Anda punya cukup dana untuk bisa membayar porsi yang 30% sebagai Uang Muka Rumah. Sekarang, Anda memutuskan untuk mengajukan Permohonan KPR kepada bank.

Pada saat ini, sebagian besar bank pada umumnya menyediakan fasilitas KPR. Anda bisa datang ke salah satu bank yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal Anda, datang ke Customer Service-nya dan mengutarakan maksud Anda. Mereka biasanya akan menyerahkan sebuah Formulir Permohonan KPR untuk Anda bawa pulang dan isi, untuk lalu diserahkan lagi kepada bank. Di situlah bank akan membaca jawaban Anda dan menganalisanya.

O ya, tidak semua Permohonan KPR dari calon nasabah akan diterima oleh bank. Ini karena bank biasanya mempunyai kriteria sendiri dalam meluluskan Formulir Permohonan KPR yang masuk kepada mereka. Apa saja kriterianya?

  1. Orang tersebut harus berusia maksimal 50 tahun ketika mengajukan Permohonan KPR kepada bank.
  2. Orang yang bersangkutan harus sudah bekerja dan memiliki penghasilan, yang dibuktikan dengan adanya dokumen-dokumen tertentu. Penghasilan tersebut minimal besarnya harus 3 kali dari jumlah cicilan KPR yang diinginkan tiap bulannya, bila KPR tersebut diluluskan
  3. Bila orang itu pernah memiliki hutang di tempat lain, maka orang itu harus memiliki sejarah pembayaran kredit yang baik di sana, terutama pada masa duabelas bulan terakhir.


Strategi agar Permohonan KPR Bisa Diterima

Nah, melihat kriteria-kriteria tersebut, ada baiknya kalau Anda memiliki strategi khusus sebelum mengajukan Permohonan KPR kepada bank. Tujuannya agar Permohonan KPR Anda bisa diluluskan oleh pihak bank. Karena itu, ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR kepada bank:

  1. Siapkan dokumen keuangan yang diperlukan:Siapkan dokumen keuangan yang pasti (atau hampir pasti) akan diminta oleh pihak bank. Apa itu? Bila Anda adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:

    a. Surat Keterangan Bekerja di Perusahaan (minimal Anda harus sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 2 tahun)
    b. Slip Gaji Asli
    c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)

    Bila Anda adalah seorang wiraswastawan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:

    a. Daftar Pelanggan Anda (bila memungkinkan)
    b. Daftar Pemasok Anda (bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
    c. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
    d. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
    e. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
    f. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) ­ bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
    g. TDP (Tanda Daftar Perusahaan)

    Bila Anda adalah seorang profesional, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:
    a. Daftar Pelanggan atau klien Anda (bila memungkinkan)
    b. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
    c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
    d. NPWP
    e. Surat Izin Praktek (untuk beberapa profesi tertentu)

  2. Siapkan kelengkapan dokumen dari jaminan yang akan diajukanBila Anda membeli rumah secara kredit, maka rumah yang akan dibeli tersebut biasanya akan diminta oleh bank untuk dijaminkan kepada mereka. Ini berarti, apabila Anda tidak bisa meneruskan pembayaran cicilan KPR Anda (macet dan tidak ada penyelesaiannya), maka rumah itu akan disita oleh bank untuk mengganti sisa hutang yang belum Anda bayar.

    Itulah sebabnya, adalah penting bagi bank untuk memeriksa lebih dulu kelengkapan dokumen dari rumah yang akan dijaminkan tersebut. Apa saja dokumen itu?

    a. Sertifikat Tanah
    b. Sertifikat IMB + Blue Print (cetak biru gambar rumah tersebut)
    c. SPPT PBB Tahun terakhir

    Dengan demikian, selama Anda membayar Cicilan KPR Anda, maka dokumen-dokumen tersebut akan disimpan oleh bank sampai cicilan KPR Anda lunas. Jadi, pastikan Anda mengecek terlebih dahulu kelengkapan dari dokumen-dokumen tersebut sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR Anda kepada bank.

  3. Perbaiki Penampilan Keuangan AndaAnda juga perlu memperbaiki penampilan keuangan Anda agar bank bisa menangkap “kesan” yang baik terhadap keuangan Anda. Dengan memperbaiki penampilan keuangan Anda, maka akan makin besar kemungkinannya bahwa bank akan menerima permohonan KPR Anda. Karena itu, di bawah ini adalah sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam memperbaiki penampilan keuangan Anda:

    a. Perbaiki Catatan Rekening Bank yang Anda miliki.

    Bila Anda bekerja sebagai karyawan, bank akan meminta slip gaji sebagai bukti bahwa Anda memang memiliki penghasilan sebesar jumlah tertentu setiap bulannya. Namun demikian, jangan lupa bahwa bank mungkin tidak akan percaya begitu saja kepada slip gaji tersebut. Bank biasanya masih akan meminta catatan rekening bank Anda (biasanya berupa laporan rekening koran atau buku tabungan) untuk membuktikan apakah memang benar ada uang masuk sejumlah nilai yang persis sama seperti apa yang tercantum dalam slip gaji Anda.

    Sekarang, bila Anda biasa mendapatkan penghasilan secara tunai (bukan transfer), (entah apakah Anda bekerja sebagai karyawan, profesional, atau wiraswastawan) maka usahakan untuk menyetorkan penghasilan tersebut lebih dulu ke rekening Anda, sebelum Anda menggunakannya untuk membayar pengeluaran Anda sehari-hari. Dengan demikian, bank dapat membuktikan bahwa Anda memang memiliki penghasilan secara rutin sebesar minimal sekian rupiah setiap bulannya.

    Dan, kalau bisa, usahakan agar catatan rekening bank tersebut menunjukkan adanya pemasukan sekitar minimal tiga sampai enam bulan terakhir penghasilan Anda.

    b. Lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.

    Kalau Anda punya hutang di tempat lain (seperti Hutang Kartu Kredit atau hutang kepada bank lain), usahakan agar pembayaran tagihannya tidak sampai macet. Sebagai informasi saja untuk Anda, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri dalam memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah Anda pernah macet atau tidak dalam membayar hutang di tempat lain. Jika diperkirakan bahwa Anda pernah macet dalam membayar hutang Anda di tempat lain, bisa-bisa permohonan kredit Anda akan ditolak karena bank takut hal yang sama bisa terulang kepada mereka. Jadi sekali lagi, lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.

    Nah, sekarang bagaimana bila Anda ternyata pernah macet dalam membayar tagihan hutang di tempat lain? Kalau itu baru-baru saja terjadi, maka Anda sebaiknya menunda permohonan KPR Anda dan melancarkan dulu pembayaran hutang di tempat lain itu sampai dengan – paling tidak ­ duabelas bulan ke depan. Setelah duabelas bulan, baru ajukan lagi permohonan KPR Anda kepada bank, karena ­ walaupun Anda pernah punya tagihan macet di tempat lain, tapi ­ diharapkan kondisi keuangan Anda sudah baik kembali dalam duabelas bulan itu. Sekali lagi, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri untuk memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah baru-baru ini Anda pernah macet dalam membayar hutang di tempat lain.

    c. Atur proporsi cicilan hutang Anda.

    Perhatikan bahwa bank ­ mungkin – akan menolak Permohonan KPR Anda bila total cicilan hutang Anda (termasuk cicilan KPR Anda apabila diluluskan) adalah sebesar sepertiga (atau sekitar 33%) dari penghasilan Anda.

    Sebagai contoh, bila penghasilan rutin Anda Rp 2 juta per bulan, lalu tiap bulan, Anda mencicil ini dan itu di tempat lain sebesar ­ sekitar ­ Rp 600 ribu setiap bulan. Ini berarti, total cicilan hutang Anda setiap bulan sudah memakan sekitar 30% dari penghasilan rutin Anda yang Rp 2 juta per bulan. Nah, andaikata permohonan KPR Anda diterima oleh bank dan Anda harus membayar tambahan cicilan KPR sebesar misalnya Rp 400 ribu sebulan, maka ini berarti total cicilan hutang Anda adalah Rp 1 juta (atau memakan porsi sekitar 50% dari Penghasilan Rutin Anda). Di sinilah bank mungkin akan menolak Permohonan KPR Anda.

    Ini karena bank berpendapat bahwa bila total cicilan hutang Anda memakan porsi yang lebih besar daripada sepertiga penghasilan rutin Anda, maka bank “takut” bahwa Anda jadi kesulitan membayar pengeluaran rumah tangga Anda yang lain, sehingga ­ mungkin ­ akan tergoda untuk mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan KPR. Buntutnya, ditakutkan cicilan KPR tidak bisa terbayar setiap bulannya karena uangnya dipakai untuk membayar pengeluaran rumah tangga.

    Jadi bila pada saat ini Anda sudah punya Cicilan Hutang yang totalnya sudah mencapai 33% dari penghasilan rutin Anda, jangan harap permohonan KPR Anda bisa diterima. Kurangi dulu porsi cicilan hutang yang 33% tersebut, baru Anda bisa mengharapkan agar Permohonan KPR Anda bisa diterima. Sekali lagi, bagi bank, Cicilan semua hutang Anda, plus cicilan KPR Anda (apabila diluluskan), harus memakan porsi maksimal sebesar 1/3 atau 33% dari Penghasilan Rutin Anda.


Faktor Kunci Kredit Pemilikan Rumah

Oleh: Mike Rini

Dikutip dari Danareksa.com

Membeli rumah mereka melalui kredit rumah, bisa jadi merupakan ikatan, komitmen atau perjanjian hutang piutang terbesar dan terpanjang yang mungkin pernah Anda putuskan. Karena harga rumah yang mahal maka semakin besar pula kredit rumah yang dibutuhkan dan semakin panjang pula waktu untuk mengembalikannya, biasanya berlangsung sampai antara 10 sampai 15 tahun dari hidup Anda.

Jika kita perhatikan saat ini di pasaran kredit rumah telah banyak terjadi perubahan. Kredit rumah yang banyak disuplai dari bank telah membuat berbagai penawaran yang variatif untuk menarik minat masyarakat agar mau mengambil produk kredit rumahnya. Kenyataan bahwa telah terjadi perubahan di dunia perbankan, dimana banyak pemain lama yang kandas dan adanya pemain baru yang muncul juga semakin menambah suasana kompetisi yang panas. Dengan semakin banyaknya pilihan kredit rumah ini seharusnya memang semakin menguntungkan bagi kita para calon konsumen.

Sayangnya mendapatkan kredit rumah dari bank tidak menjadi lebih mudah dari tahun ke tahun. Untung saja, kita tidak harus membuat antrian panjang di bank untuk mengajukan kredit rumah. Walaupun demikian, proses persetujuan kredit rumah tetap saja harus melalui berbagai tahap proses penyaringan.

Kerumitan itu bahkan terus bertambah dengan macam-macam proses administrasi dan legalisasi yang memang sudah satu paket yang tidak terpisahkan dengan kredit rumah. Belum lagi biaya-biaya seputar transaksi pembelian rumah berikut biaya pengikatan kreditnya, serta biaya administrasi lainnya. Tidak heran jika banyak orang menganggap proses mendapatkan kredit rumah itu sangat panjang dan rumit.

Namun, jangan putus asa, memilih kredit rumah yang sesuai dengan Anda tidak sesulit yang Anda bayangkan, dan berharap agar permohonan kredit rumah Anda disetujui bukanlah tidak mungkin, jika Anda menjalankan beberapa langkah dasar berikut ini.

Saya membutuhkan pinjaman untuk membeli rumah.
Darimana saya harus mulai ?
Area paling penting yang pertama kali harus Anda analisa adalah kemampuan finansial Anda. Tidak ada gunanya jika Anda memaksa meminjam di luar kesanggupan Anda mengembalikannya. Jika Anda melakukannya juga, Anda mungkin berakhir dengan memiliki rumah impian Anda, namun menderita secara finansial ketika dari waktu ke waktu mencoba memenuhi kewajiban pembayaran cicilan kredit rumah yang terlalu besar sambil berusaha sekuat tenaga memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari yang cenderung meningkat tiap tahun.

Jadi bagaimana saya memastikan bahwa saya mengambil kredit rumah yang tidak akan membayakan kondisi keuangan saya ?
Pada umumnya bank-bank sebagai pihak yang memberikan pinjaman atau sebagi pihak kreditur akan membantu Anda menghitung berapa jumlah pinjaman kredit rumah yang berada dalam wilayah kesanggupan finansial anda. Ketika menganalisa kesanggupan Anda dalam meminjam, bank bisanya menggunakan 5 faktor sebagai pertimbangan dalam menentukan berapa besarnya pinjaman.

Lima faktor itu adalah, penghasilan Anda saat ini, jumlah hutang yang berjalan dan berapa jumlah cicilan hutangnya per bulan, besarnya pembiayaan sendiri, sejarah hutang Anda sebelumnya, dan keberlangsungan penghasilan Anda.

Dengan mengetahui ke 5 faktor kunci ini, diharapkan bisa membantu Anda memperkirakan terlebih dahulu berapa besarnya jumlah kredit rumah yang sanggup Anda pinjam dan yang bisa disetujui bank Anda.

  1. Penghasilan
    Untuk menghitung berapa besarnya maksimal pinjaman yang bisa diberikan berdasarkan penghasilan saat ini, biasanya bank menggunakan metode yang sederhana saja yaitu menggandakan penghasilan utama ditambah penghasilan ke dua, yang biasa dikenal dengan metode “ tiga ditambah satu “. Jadi jumlah pinjaman maksimal adalah “3 kali penghasilan utama pertahun, ditambah satu kali penghasilan ke dua per tahun”.Contohnya begini jika, jika pasangan suami istri mengajukan kredit rumah, dimana penghasilan suami Rp 5 juta perbulan atau Rp 60 juta pertahun, dan penghasilan istri Rp 3 juta per bulan atau Rp 36 juta per tahun, maka bank kemungkinan akan bisa memberikan maksimal pinjaman sampai dengan jumlah Rp 216 juta. Namun jika Anda masih single maka yang diperhitungkan adalah penghasilan utama saja sebab belum memiliki joint income dengan pasangan.

    Jenis penghasilan yang dipertimbangkan oleh bank bervariasi, namun secara umum penghasilan yang rutin dan terjamin atau sudah pernah diterima secara rutin dimasa lalu-lah yang diperhitungkan. Sebaliknya penghasilan yang tidak rutin atau sesekali saja seperti uang lembur, kemungkinan besar akan diabaikan.

    Bank juga akan membutuhkan bukti tertulis yang bisa memverifikasi penghasilan Anda dan untuk mengecek kebenarannya kemungkinan akan langsung bertanya kepada perusahaan pemberi kerja Anda. Bukti tertulis yang diminta berupa slip gaji terakhir, surat keterangan lama bekerja, kemudian fotocopy dari buku tabungan Anda selama 3 bulan terakhir. Jika Anda seorang wirausahawan maka data-data keuangan yang diminta biasanya berupa fotocopy rekening tabungan atau giro Anda di bank. Kemudian untuk memverifikasi usaha Anda biasanya juga diminta data-data ijin usaha seperti NPWP, SIUP, TDP, dan lain-lain.

    Namun dengan kriteria ini, apa boleh buat, buat Anda yang penghasilannya kecil maka jumlah pinjaman yang diberikan bank juga kecil, dan semakin besar penghasilan Anda, maka semakin besar pula pinjaman yang bisa diberikan.

  2. Hutang atau kewajiban yang berjalan
    Jika saat ini Anda sudah memiliki hutang yang berjalan, dengan kewajiban pembayaran cicilan hutang bulanan, maka otomatis bank akan mengurangi jumlah pinjaman yang bisa diberikan berdasarkan penghasilan Anda. Hal ini disebabkan kewajiban yang berjalan tadi sudah mengurangi kemampuan Anda dalam mengambil pinjaman berikutnya, juga mengurangi kemampuan Anda dalam membayar cicilan hutang bulanan selanjutnya.Bayangkan jika kita sudah memiliki cicilan hutang saat ini, kemudian ditambah lagi dengan cicilan kredit rumah. Berapa banyak penghasilan kita yang sudah dihabiskan untuk membayar cicilan hutang saja ? Jika cicilan hutang kita terlalu besar, akibatnya kita akan kesulitan membayar pengeluaran rumah tangga lainnya. Bank tidak ingin Anda terus mengalami kesulitan likuiditas ini selama dalam masa pembayaran kredit rumah Berapa besar jumlah pinjaman kredit rumah yang akan disesuaikan akan tergantung dari besarnya jumlah hutang yang berjalan ini.

    Penyesuaian biasanya dilakukan dengan dua pendekatan – bank akan mengurangi jumlah pinjaman kredit rumah, atau menyesuaikan besarnya jumlah cicilan bulanan. Batas maksimal total cicilan hutang bulanan sebuah keluarga yang dianggap aman oleh bank adalah sebesar 30% saja dari total penghasilan bulanan keluarga. Berdasarkan metode kedua maka bank akan menyesuaikan besarnya jumlah cicilan kredit rumah, agar jika ditambahkan dengan cicilan hutang sebelumnya jumlahnya tidak melebihi batas maksimal tadi. Kesimpulannyanya semakin banyak hutang Anda yang berjalan, maka semakin kecil kemungkinan mendapatkan pinjaman baru dari bank atau tidak sebesar yang Anda inginkan.

  3. Besarnya pembiayaan sendiri
    Terlepas dari faktor penghasilan seseorang, maka besarnya jumlah kredit rumah juga disesuaikan dengan harga rumah yang akan dibeli. Namun pada umumnya bank tidak memberikan 100% pinjaman berdasarkan harga rumah, namun rata-rata sekitar 70%nya saja dari harga rumah, sisanya harus dibiayai sendiri oleh Anda.Pada kenyataannya saat ini beberapa bank bahkan mau membiayai sampai sebesar 80% hingga 90% dari harga rumah. Bank memang meminta calon peminjam untuk turut membiayai pembelian rumahnya, yang dianggap sebagai uang muka yang dibayarkan kepada penjual rumah.Uang muka ini harus Anda siapkan sendiri, sehingga walaupun Anda membeli rumah dengan kredit rumah, Anda tetap harus mempersiapkan sejumlah uang tunai untuk sisa harga rumah yang tidak dibiayai bank. Semakin besar kemampuan pembiayaan sendiri, maka semakin kecil pula risiko untuk bank, sehingga semakin besar peluang Anda mendapatkan kredit rumah. Namun dilain pihak, jika jumlah pembiayaan sendiri semakin besar maka jumlah pembiayaan dari bank semakin kecil.
  4. Sejarah hutang sebelumnya
    Jika Anda pernah memiliki sejarah hutang yang kurang baik sebelumnya, maka jangan heran jika pada saat ini lebih sulit bagi Anda untuk mendapatkan pinjaman bank. Begitu permohonan kredit rumah Anda diterima bank maka bank segera akan mencari data-data sejarah hutang Anda dimasa lalu. Apakah Anda pernah punya cicilan hutang yang macet di tempat lain dan belum selesai sampai sekarang, apakah pernah berurusan dengan pengadilan sehubungan dengan perkara pinjam meminjam. Kebijakan masing-masing bank berbeda-beda dalam menilai dan bertoleransi tentang sejarah hutang masa lalu ini.Jika perkaranya sudah selesai dan Anda telah mengatakan sebelumnya kepada pihak bank sebelum diminta – atau sebelum bank mencari tahu sendiri, mungkin bisa jadi nilai tambah buat Anda dan meningkatkan kepercayaan bank kepada Anda. Yang pasti, besar kecilnya pinjaman yang diberikan akan disesuaikan dengan faktor risiko gagal bayar yang pernah terjadi di masa lalu.
  5. Keberlangsungan penghasilan Anda
    Walaupun kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan atau perusahaan tempat bekerja cukup bisa dimaklumi, namun bank lebih menyukai calon peminjam dengan masa kerja yang lebih stabil dengan peningkatan karir yang cukup baik. Paling tidak pada perusahaan yang sekarang ini masa kerja Anda sudah lebih dari 2 tahun dan sudah diangkat sebagai pegawai tetap. Buat Anda yang berwirausaha, maka bank akan sangat mempertimbangkan berapa lama bisnis Anda sudah berjalan.

Alasannya sederhana karena semakin lama usia bisnis tersebut berarti sudah berjalan cukup baik dan lebih berpengalaman untuk bisa bertahan di masa yang akan datang. Minimal 2 tahun dari usaha yang berjalan dinilai cukup aman oleh bank dalam memberikan kredit kepada para wirausahana.

Masa kerja dan status kepegawaian bagi Anda yang karyawan, kemudian lamanya usaha Anda sudah berjala bagi Anda yang pengusaha, merupakan hal-hal yang dipertimbangkan bank sebagai indikasi keberlangsungan penghasilan Anda di masa depan, dan tentunya mempengaruhi kemampuan mengembalikan pinjaman nanti. Intinya semakin terjamian keberlangsungan penghasilan Anda di masa depan, maka kemungkinan bank memberikan pinjaman sebesar yang Anda butuhkan semakin besar.